Tuesday, November 17, 2009

Wherefore art thou?

Dengarkan celotehku di Twitter. Follow me at www.twitter.com/jejakartemis

See you there!

@Lakhsmi, ToH, 2009

Thursday, November 5, 2009

Tendangan di Pantat yang Keras untuk Klub Asertif

The readers should be getting kicks in the ass. Real hard.

Marah itu tidak mudah, yang sulit adalah menjadi asertif. Kata asertif adalah kata asing dalam kamus bahasa Indonesia, asing juga dalam perilaku orang-orang Indonesia, apalagi lesbian. Mereka tidak mengenal kata asertif, demikian juga aku yang masih berjuang. Jadi, aku ingin menyulang di pagi hari ini, untuk klub baru yang kudirikan, anggotanya mereka yang belajar bersama-sama menjadi asertif.

@Lakhsmi, ToH, 2009

Tuesday, August 4, 2009

Memamerkan Moral

Kemarin aku keluar rumah, berjalan-jalan ke pelosok kantor kecamatan maya. Wah! Banyak yang memamerkan moral kepunyaannya. Moral termahal, moral yang satu-satunya di dunia, moral yang nggak dijual di mana-mana, sampai moral paling trendi. Pemiliknya mengaku keturunan hero, bangsawan penjaga moral sejak tujuh generasi. Aku nggak pakai moral. Boro-boro punya, beli saja malas biarpun banyak moral sedang diobral di mana-mana. Aku juga tidak berdarah biru hero, katanya aku keturunan anti-hero, kelompok jelata protagonis yang memiliki antibodi yang bernama alergan terhadap moral. Dengan kata lain, aku alergi moral seperti seseorang alergi debu. Itu kata temanku yang jago meramal tanganku. Eh, eh, barusan seorang tetanggaku di Yahoo! Messanger mencerewetiku tentang pentingnya memiliki moral terbaru. Aku tertawa-tawa sampai sakit perut mendengar kuliahnya. Mataku berair, telingaku mendenging melihat kecanggihan moral yang dimilikinya. Memang luar biasa hebat. Sungguh moral lagi naik daun. Di akhir hari, aku menekan tombol delete lalu kuhapus temanku yang bawel di Yahoo! Messangger supaya nggak berisik lagi soal moral. Fiuh, sekarang aku bisa bernapas lega.

@Lakhsmi, ToH, 2009

Thursday, July 16, 2009

Kematian dan Aku

Aku ingat jalan yang berkabut ketika aku memandang masa depanku. Di punggungku, aku menggendong kematian. Kami seperti kakak beradik atau teman dekat yang tidak terpisahkan. Aku hanya perlu menoleh ke belakang, menyapanya ketika subuh mengguncang langit, “Selamat pagi, kamu masih betah di punggungku?” Dan saat malam tiba, napasnya menggelitiki tengkukku sebelum aku menyapanya lagi, “Selamat malam, temani tidurku ya.” Tau seperti apa bentuk kematian yang kugendong itu? Dia berubah-ubah bentuk. Kadang terlihat seperti sepasang sayap di hari yang cerah. Tapi di hari yang mendung, dia muncul seperti sebilah pedang yang tertancap.

@Lakhsmi, ToH, 2009

A Little Kiss

Biar saja kata-kata ini melebur, menjadi seperti bibir yang berwarna merah jambu penuh harapan dan cinta, cinta, cinta lalu terbang mencium dirimu yang berada nun jauh di sana. Merindukanmu...

@Lakhsmi, ToH, 2009

Wednesday, July 15, 2009

Tentang Teman Straightku yang Punya Pendapat Lucu

Mengobrol dengan teman heteroku, yang juga seorang ibu. Kami berdiskusi tentang anak yang dibesarkan oleh pasangan homoseksual di Amerika.

“Apa anak itu nggak bingung ya kalau dia punya keluarga yang berbeda?” tanyanya heran. Aku menjelaskan sudah pasti tidak, karena pasti keluarga itu memiliki teman-teman homoseksual yang mirip seperti mereka (mengadopsi anak). Lagian sekolah-sekolah di sana juga mendukung tentang keberagaman jenis keluarga.

“Enak kali ya punya pasangan yang sama dengan kita." Dia terkekeh, sedikit bingung dengan pendapat spontannya. Dia menoleh ke aku, mengira aku mengerti maksudnya. Tatapannya meminta dukungan, tapi aku melengos. "Maksudku gini, nih. Kalau sama cewek, kamu pasti bisa lebih dimengerti dan dapat saling mengerti. Eh, kebayang kan? Daripada sama cowok yang... eh, benar-benar berbeda dengan diri kita..." Dia terdiam beberapa jeda, makin tampak tersesat dengan omongannya sendiri. "...eh itu maksudku, cewek dan cowok kan nggak sama, sampai ada buku pegangan tentang Perempuan dari Venus dan Lelaki dari Mars. Ngerti maksudku kan?"

Ya, aku mengerti maksudnya, mengerti sekali malah. Aku hanya tersenyum, mengangguk beberapa kali, tidak menjawab apa-apa. Aih. Seandainya dia tahu...

@Lakhsmi, ToH, 2009

Sunday, July 12, 2009

Acara Lelang

Aku ikutan acara lelang di suatu Minggu sore di sebuah hotel dalam acara amal dan pengumpulan dana. Uang akan disumbangkan ke beberapa daerah terbelakang dan miskin. Acara ini disponsori oleh perusahaan-perusahaan dan organisasi non profit yang bergerak di bidang karya dan karsa. Organisasi ini memiliki anggota orang-orang kaya yang merasa harus turun tangan membantu masalah kemiskinan dan kesulitan hidup yang menimpa Indonesia.

Suasana lelang selalu bikin semangat. Yang rencananya aku masih mikir-mikir untuk beli barang, mendadak ikut-ikutan angkat tangan buat menawar. Dalam hati aku melamun, kapan yah suatu hari para lesbian berhasil mengorganasir acara lelang untuk kepentingan orang-orang yang miskin dan terbelakang? Ya, jangan egois dan sibuk menunjuk diri sebagai kelompok terpinggirkan melulu! Masih banyak sekali orang miskin yang perlu dibantu. Aku ingin suatu hari kita berhasil mengadakan acara malam amal profesional yang diselenggarakan oleh para lesbian. Oh! Apa aku lagi bermimpi atau ini bakal terjadi? Halah, daripada mencak-mencak mempertanyakan dan menuntut kapan masyarakat bakal menerima kaum homoseksual, mendingan ikhlas membantu yang lagi kesusahan. Pahalanya banyak loh. Hidup di dunia lesbian pasti akan dilapangkan oleh Yang Di Atas. Nggak percaya? Harus percaya.

Siapa yang mau ikutan bermimpi bersamaku?

@Lakhsmi, ToH, 2009

Kenangan Kelahiran

Aku takkan pernah melupakanmu yang membantu persalinan ketika bayi yang terlahir berwarna biru karena tak sanggup menjerit kamu datang untuk menggendong si kecil dan memberikannya tepukan di pantat sehingga dia menangis melolong kencang menjadikan suara itu tantangan keras kepada semua lesbian yang mendengarkan (dan yang tidak atau belum atau malah pura-pura tuli) lalu kamu timang-timang bayi itu dengan penuh kasih sayang membiarkanku beristirahat setelah kecapekan mengejan lalu aku tertidur nyenyak dengan mimpi-mimpi indah tentang masa depan si bayi. Bayi itu, bernama SepociKopi. Kamu itu, bernama Ade Rain.

@Lakhsmi, ToH, 2009

Saturday, July 11, 2009

Tentang Seorang Teman Maya yang Menyebalkan Sekali!

Aku membakar kesabaran di jendela-jendela yang tak pernah usai membuka menuju untaian jalan maya. Aku tak mau terinfeksi udaramu, aku mual. Kau pandai menciptakan korslet listrik, retak tulangku nyalang debur jantungku. Aku diam, menyiletmu dalam kegelapan dan menggentayangimu dengan hantu-hantu kesialan. Hari takkan lurus, tawaku sudah hangus.

Kami bertukar selamat malam, yang sudah basi dan berbelatungan di ujung kenangan jalan maya. Perempuan kerdil, aku memang bodoh kok, dan jelas tak perawan. Cepat, cepat hadirkan angin, agar aku dapat menungganginya meninggalkan semua sampah apa kabar dan kerak ramah tamah. Tak ada keinginan untuk melawan sebab di satu jendela itu kulihat kau berbicara sendiri bla bla bla bla bla bla bla bla bla bla bla bla bla sampai mati.

@Lakhsmi, ToH, 2009

Rakus Kalender

Selembar hari kuremas lalu kubuang lagi, menghuni tong sampah hiruk pikuk di kolong meja kerjaku. “Mom, lusa sekolah,” kata anakku mengingatkan, “Cepat sekali. Rasanya seperti menelan waktu.” Aku melirik ke kolong meja, terlalu terkejut dengan ucapan anakku. Ke mana sampah hari yang kurobek? Jangan-jangan dimakan dia! Keranjang sampah kosong! Aku duduk menyandar di kursi, tertawa sendiri menghadap komputerku. Perutku terguncang-guncang, berbunyi-bunyi, masih terasa lapar sejak tadi.

@Lakhsmi, ToH, 2009

Aku, Menjadi

Aku menjadi kunang-kunang jantan hinggap di dahan, terbang ke timur, menggoda kunang-kunang betina. Aku menjadi daun, terjatuh melengkung, gugur menuju bunga yang tumbuh mungil di bawah pohon. Aku menjadi anak matahari, menutup senja di depan rumahmu, menjadi permainan bayang-bayang yang remang.

Sampai di sini, kulihat kunang-kunang, daun, dan anak matahari, masih malu-malu mencoba masuk ke dalam hatimu.

@Lakhsmi, ToH, 2009

Friday, June 26, 2009

Home Alone

Jadi begini rasanya ditinggalkan? Lima setengah tahun hidup bersama pasanganku, aku jarang ditinggalkannya pergi. Dia pernah sekali meninggalkanku ke Paris tapi itu adalah sebuah rencana yang benar-benar rusak karena seharusnya kami berdua pergi ke Paris. Aku justru sering pergi meninggalkannya, bahkan pernah sampai berminggu-minggu lamanya. Kekasihku selalu menungguku di rumah dengan sabar.

Tapi kali ini dia harus pergi dan aku seperti layang-layang yang talinya putus. Tidak ada yang enak kulakukan tanpa membayangkan kehadiran dirinya berada di tempat lain yang jauh dari tempatku bernapas. Semua serba nggak enak, bahkan makan yogurt Sour Sally pun tidak bisa menceriakan hariku. Aku demam, radang hati, gelisah, dan malas melakukan kegiatan apa pun. Ah, Sayang, cepat pulang, aku tidak sabar ingin masuk ke pelukanmu lagi.

@Lakhsmi, ToH, 2009